The RIGHT Time

“Gy, gue udah pacaran sebulan kok belom diapa-apain ya?”

 

Pertanyaan itu memecah keriuhan denting cangkir teh herbal di tengah kafe yang bangkunya semakin berdempetan sejak kasus pembunuhan legendaris di tempat itu.

 

“Loe tau nggak, di negara ini, banyak pasangan yang baru salaman di hari pernikahan!” gue memajukan badan setengah berbisik, sambil lirik kiri-lirik kanan di tetangga yang berjarak dua puluh senti.

 

“Lah ya bodo amat! Itu pasangan pada kawin umur 18 taon, gue mah udah umur segini, ga usah pake salam-salaman!” jawabnya, sekali lagi, dengan nada yang sama tingginya.

 

Gue tersenyum sambil memutar-mutar cangkir di tangan. Oh, ini pertanyaan klasik, dari perempuan-perempuan Indonesia yang lebih dari sepuluh tahun tinggal di luar negeri, dan kini sedang menghadapi proses ‘naturalisasi’ kembali hidup bersosialisasi dengan tatar budaya ketimuran.

Berapa lama waktu yang diperlukan dalam setiap level keintiman sebuah hubungan?

Ugly Path in that Beautiful Plan: Renungan dari Santorini

Confirmed! This is the ugliest airport on earth.

 

Kami sedang duduk di lantai berdebu di tepi bandara Santorini bak pengungsi yang ditolak, menghadapi angin malam pantai yang mulai mendingin, ditumpuk 6 koper besar yang baru bisa di-check-in-kan 2 jam sebelum keberangkatan. Itu 4 jam lagi.

 

Ya tentu saja, ada bandara yang lebih kecil dari ini. Bandara Susilo di Sintang, Kalimantan Barat dengan ruang tunggu di warung indomie depan landasan juga lebih kecil. TAPIII kan tidak melayani penerbangan internasional dari Paris, Roma, Barcelona dan Madrid!

 

Otomatis, bandara JTR ini sudah mau meledak. Bau pesing menyeruak dari WC. Tempat duduk hanya 10 buah dirantai gembok. Jangan coba-coba nanya password WIFI. Dan kami, sudah pasti memilih berada di mana kek asal jangan di sini. Kami harusnya ada di Nice!

Civil War AADC 2: Rangga Vs Trian

“Lain kali kalau AADC ada triloginya, kalian pada nonton DVD di Rumah aja deh! Pada ribut sama pilihannya masing-masing yang gak bakal kesampaian itu!” demikian komentar seorang teman setelah kami nonton film Ada Apa Dengan Cinta  (AADC 2).

 

Menginjak usia yang ke-30, sekelompok perempuan alumni SMU yang sama ini memang sudah mulai kehilangan cara menonton film yang pasrah, tanpa kritik berlebih, termasuk pada alur film. Di akhir film, grup ini terbagi menjadi Tim Rangga dan Tim Trian.

 

Gue jelas termasuk tim Trian, si pacar baru dan tunangan Cinta. Gila aja loe. Apa sih salah Trian? Ganteng, berwibawa, mapan sejak lahir, baik hati, bijaksana…

 

“Tapi gantengan Rangga, ah!” begitu seorang Tim Rangga membela.

“Ya elah, namanya juga pemeran pendukung, ya dibikin nggak ganteng lah, dipeciin juga jadi ganteng! Turun dari mobil BMW juga jadi ganteng! Daripada Rangga musti sewa mobil, loe tau nggak sih aslinya mobil itu gampang mogok dan panas karena AC-nya sering mati!” gue membela.

 

Begitu fanatiknya dengan Tim Trian hingga di akhir film gue sibuk membagikan link ‘Surat Balasan Trian’ dan mengompori setiap orang yang gue ajak bicara tidak peduli gender, agama maupun latar belakang.

 

Hingga salah satu target kampanye Tim Trian tiba-tiba membalikkan kondisi. “Bagaimana jika dalam kehidupan nyata, Cinta itu lelaki, Rangga dan Trian itu perempuan, dan KAMU adalah Rangga?”

What (Gentle)Men Want

Rejeki orang memang tidak bisa ditebak. Seorang teman satu genk dan kerja kelompok di universitas jurusan jurnalistik dulu kini sudah menjadi pengusaha pemilik jaringan gentlemen club di Singapura.

 

“Wuih, bro, udah jadi orang loe ya sekarang!” gue memuji. Namun Joko, demikian saja namanya disebut, menepis. Menurutnya, dalam bisnis ini bukan dia yang meraup keuntungan terbesar. Adalah para flower girl (bukan dalam konteks upacara pernikahan) yang jadi paling kaya.

 

Flower Girl ini bertugas menari dan menyanyi bagi para tamu. Sebagai tanda apresiasi, para gentlemen yang datang akan mengalungi karangan bunga seharga 1000 SGD yang dibeli dari klub. Mirip metode sawer di dangdut pantura.

 

Dalam semalam, seorang flower girl bisa mendapatkan hingga 8 karangan bunga. Bayangkan, jika ia bekerja 3 hari seminggu saja, dalam sebulan ia akan meraup 96 ribu SGD. Itu untuk kelas flower girl yang biasa aja. Yang memang bintang panggung bisa menyabet lebih dari SGD 200.000 semalam.

Pelet (Bukan untuk Ikan)

 

Suatu kali ketika Bunda masih hidup, ia bertandang ke apartemen gue. Setelah berdoa bersama, Bunda bertanya ‘Nak, kamu pernah memikirkan lelaki yang seharusnya nggak kamu pikirkan ?’

Gue berpikir sejenak dan menjawab mantab, ‘gak tuh!’ Usut punya usut, Bunda mendeteksi seseorang yang berusaha mengirim pelet yang bukan buat ikan.

“Oh, emang kenapa sih Bun, mustinya ngomong aja dulu gitu!”
“Ya dia merasa kamu telah menolak dia,” jawab Bunda
“Ohh.. emang kenapa orangnya? Jelek banget?”
“Bukan gitu…”
“Ohh.. miskin?”
“BUKAN! Dia itu udah punya anak dan istri!!”

Dari segala jenis ilmu hitam yang pernah gue dengar, dari santet, sihir, celaka lintas, susuk dan teluh, gue paling takut sama pelet.

Ramalan Mama Margie

“Sorry, telat,” gue menyapa ceria, sembari merapikan tempat duduk di tengah kafe bergaya Perancis yang menjadi tempat pertemuan hari itu. Seorang teman, dengan seorang sepupu yang katanya sedang mengalami ‘masalah percintaan’.

 

“Nggak apa, Gy, mesen minum dulu,” ujarnya sambil menyodorkan menu. Gue melirik meneliti daftar minuman di hadapan. Sebelum menjatuhkan pilihan pada lemon chamomile hot tea dan langsung memanggil masnya untuk memesan.

 

“Kita udah pesen makanan, dicobain aja, Gy,” ia kembali menyodorkan makanan. Serantang pizza bertabur daun rucolla dan prosciutto, serta sepiring pasta pink sauce yang memamerkan potongan-potongan udang yang cantik.

 

“Oh iya, gampang,” gue menjawab, “Jadi, gimana-gimana, apa kabar?”

“Loe mau mulai cerita nggak?” sang teman menawarkan sang sepupu.
“Iya, boleh,” sepupu menjawab, lalu mulai membeberkan kisah asmaranya. Sebuah nomor klasik tentang pria posesif yang tidak nyaman dengan kekasihnya yang jauh lebih sukses, yang berakhir dalam sebuah perselingkuhan sekadar membalas kesal.

“Jadi menurut loe, dia bakal ngontak gue lagi nggak?” Tanyanya penuh harap.

 

Sesaat suasanya kafe yang memang agak remang gaya tahun 20-an itu berubah menjadi sebuah tenda sirkus. Gue di tengah, sambil memegang cangkir teh panas, dengan dua pasang mata menatap harap menanti jawaban.

In Search for That True Love

It’s a perfect proposal. Yang laki-laki, seorang pengusaha muda berwajah tampan yang tidak punya orientasi terhadap lawan jenis. Yang perempuan, wanita karir menjelang usia 30 dengan karir gemilang yang sudah dikejar deadline menikah.

 

Dengan menikahi yang laki-laki, yang perempuan akan terbebas dari pertanyaan yang ganggu setiap kumpul keluarga tanpa harus mengorbankan karirnya. Ia juga akan dapat mempertahankan gengsi di foto alumni bersama suami tampan. Belum lagi 50% harta kekayaan akan bertambah.

 

Setelah menikah, we’ll go separate ways, saran yang laki-laki. Yang perempuan tetap bebas mencari cinta (atau cinta-cinta) sejatinya.

 

Perfect, rite? Tapi Tince, yang perempuan, ternyata menolak lamaran ini.

Chiong! Main-main sama Ramalan

Seorang teman sedang gundah gulana. Pasalnya, menurut ramalan ahli nujum kepercayaannya, ia akan bercerai dengan istrinya dua tahun dari sekarang.

 

“Ya elah bro yang kayak gitu dibeli, ramalan mah dengerin yang bagus-bagus aja!” Gue merespon santai. Namun sang teman lebih percaya sama ahli ramal daripada sama gue. Alih-alih, ia malah meminta sang peramal ‘membaca’ gue.

 

“BRO! KAGAK USAH BACA-BACA GUE! UDE! GUE KAGAK PENGEN TAU GUE KAPAN KAWIN SAMA SIAPA DI MANA!” Gue langsung menolak tegas. Bukan karena sekadar ramalan si ahli fengshui ini suka jelek, melainkan karena mahal.

 

Gue takut ketagihan dan terus terbelit hutang mencari primbon. Gue tahu betul nikmatnya godaan mengetahui lebih dari apa yang masa kini sudah tunjukkan.

Menjadi Perempuan

Ya oloh.. Kalau yang kayak gini yang disebut perempuan, terus kita tuh apaan dong? Demikian gue dan teman membatin dalam hati, sambil memandangi perempuan di hadapan kami.

 

Hari itu kami dikenalkan pada istri seorang teman yang baru dinikahinya seminggu yang lalu. Seorang wanita berjilbab bertubuh mungil berperawakan halus bertabiat santun. Pokoknya perempuan banget.

 

Dengan suara begitu lembut hingga tidak terdengar, ia menyebut namanya. Sambil mengulurkan tangannya yang gemulai ke depan, ia menundukkan sedikit kepalanya.

 

Sangking halusnya, gue sampai nggak berani menjabat tangannya keras-keras. Takut remuk. Gue megang kembang aja kadang kembangnya suka jadi layu. Jangan-jangan perempuan laksana bunga ini juga bakal layu kalau salaman sama gue!

 

Ibaratnya burung, dia itu burung merak yang menghabiskan hari memamerkan bulu dan mempercantik diri. Kami burung gagak, yang hitam dan sibuk mencabik-cabik bangkai. Sama-sama aves, tapi beda spesies.

 

“Kita nih kalau nggak telanjang, nggak bakal keliatan persamaannya sama dia,” sang teman berbisik. Betapa tidak, semua sifat yang ada padanya, tidak ada pada kami.
Gue menyambut dengan tawa tergelak-gelak, membuat beberapa teman lelaki yang sedang bersama kami melirik curiga terlihat tidak nyaman. Sangat tidak perempuan.

 

Insiden itu membuat gue bertanya-tanya, what makes a woman, a woman? Apa definisinya? Apa yang membuatnya berbeda dengan spesies yang lain yaitu laki-laki?

Turning Back the Biological Clock

“Jadi loe mau ngambil paket yang mana? 5, 10, apa 15 tahun?” seorang teman bertanya sambil membolak-balik pamflet bewarna biru muda itu
“Maksimum 10 lah! Gila aja, 15 taon lagi loe udah 45, emang loe mau punya anak umur 45! Pas anak loe lulus SD loe udah pensiun!” Gue balas mencetus.

 

Mengawali tahun yang baru ini ada dua hal yang perlu kami antisipasi. Pertama, I’m turning 30, usia keramat bagi kaum perempuan. Kedua, pernikahan sepupu perempuan terakhir. Gue perlu menyiapkan solusi atas isu yang mungkin diangkat: Pembekuan sel telur.